
"Janganlah kamu berhenti di atas sesuatu dan kamu tidak mempunyai ilmu tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan mata hati seluruhnya akan dimintai pertanggung jawaban"Jika kawan-kawan yang beragama islam, tentu tahu saya kutip dari mana kata-kata diatas. Jikapun tidak, Setidaknya kita semua setuju bahwa menyampaikan sesuatu haruslah didahului dengan pengetahuan atas apa yang akan disampaikan. (jika sampai titik ini, kawan-kawan tidak setuju lebih baik berhenti melanjutkan, dan saya sampaikan terimakasih).
Maaf. Untuk Gus yang telah rela memberi predikat ramah. Gus, mungkin ini akan mengurangi keramahan itu. Untuk Mas Riasmaja, karena sore ini tiba-tiba suhu terasa lebih tinggi, malah tidak seperti siang tadi. Untuk Mas Oeoes, yang mampu meredam kekecewaan, sedangkan saya tidak.
Jika ada yang bertanya "Kenapa harus membawa-bawa ayat Tuhan?", maka akan saya jawab dengan sebuah pertanyaan balik "Lalu dengan apa saya harus berbuat selain dengan petunjuk Tuhan?"
Beberapa pekan terakhir, setidaknya ada tiga hal yang saya anggap sebagai bintik-bintik buruknya sikap kita dalam menanggapi sesuatu. Sebagai kotornya pemikiran kita atas sesuatu yang sebenarnya jauh dari persepsi yang kita ketahui. Tentang SPAM, DO FOLLOW dan KASTA BLOG. Anggap saja ini hanya sebuah kekecewaan mendalam dari seseorang yang tidak kawan-kawan kenal asal-usulnya, hanya saja takdir telah mempertemukan mata kawan-kawan dengan tulisan ini.
Pertama adalah munculnya tulisan "Apa Arti SPAM?" yang dikeluarkan oleh JoVie (jovieblog.blogspot.com) sejauh saya tahu adalah bentuk kekecewaan dari seringnya peristiwa asal tuduh ini. Misalnya ucapan "JANGAN NYEPAM DONG BOS!", seperti yang mudah saja meluncur mengarah pada seseorang yang hanya dengan tidak sengaja melakukan komentar dua kali karena kesalahan teknis. Tahukah bahwa itu bisa jadi sama pedihnya dengan seseorang yang untuk berjalan saja membutuhkan bantuan kursi roda, tapi dituduh mencuri sepeda motor sendirian.
Kedua adalah kejadian yang pernah dialami Gadis Rantau (kristinadiansafitry.blogspot.com) yang sempat mencabut banner atau logo Do Follow-nya, karena jenuh disangka tidak benar-benar Do follow. Lagi-lagi ini adalah akibat dari lebih mendahulukan tindakan daripada mencoba sejenak berfikir dahulu.
Atau juga sebuah surat terbuka mas Augusman (Zalukhu.com) pada seseorang yang menuduhnya menghujat, padahal dari apa yang ditulis beliau, sejauh saya boleh menilai hanyalah bentuk ingin diperlakukan layaknya pelanggan oleh penyedia layanan yang ia ikuti. Ini yang saya katakan dengan mulai dilestarikannya KASTA BLOG. Seorang yang disebut master atau seleb blog, dianggap sudah kebal kesalahan sehingga setiap orang tiba-tiba berhak membela si Master, tanpa mencoba duduk ditengah-tengah.
Satu hal yang tak kalah membuat kekecewaan ini semakin memuncak adalah ketika saya temukan sebuah tulisan, yang memberikan persepsi baru atas Do Follow Community. Di Tulisannya, kawan kita ini seperti (saya katakan "seperti") sedang menciptakan sebuah lingkaran definisi baru bahwa (sebagai contoh) banner di sebelah kanan atas sidebar paling kanan yang bertulis "You Comment I Follow" adalah berarti "Berkomentarlah disini, baru kemudian saya akan berkomentar di Blog anda". Saya sadar betul dengan kata-kata "sebagian blogger" yang berarti tidak semua. Hanya saja, maaf, saya justru semakin memicingkan sebelah mata saya ketika mendapati kata-kata "Saya masih saja belum menemukan maksud sebenarnya". Jika memang belum tahu maksud yang sebenarnya, masih pantaskah kita sebagai orang yang bertanggung jawab untuk menelurkan sebuah tulisan yang pasti mengundang reaksi. Apalagi jika yang tertulis disana hanya akan makin membingungkan kawan-kawan kita yang lain, yang memang belum tahu betul apa maksud "Do Follow" tapi lebih memilih diam karena ketidak-tahuannya. Bukan dengan mengeluarkan tulisan bernada "pernyataan". Setahu saya peribahasa yang kita kenal adalah "Malu Bertanya Sesat Dijalan", bukan "Malu Bertanya, Sok Tahu Saja".
Apakah sebegitu berat untuk menahan diri dari mengatakan sesuatu yang belum ditemukan maksud sebenarnya?. Sama seperti pertanyaan (dalam hati) saya dalam permasalahan mas augusman (zalukhu.com), Apakah sebegitu berat menyampaikan permintaan maaf jika sudah duduk menjadi master atau seleb blog?. Atau apakah akan jatuh harga diri jika penulis blog ber PR 4, 5, 6 atau 7 sekalipun untuk menarik kembali tulisannya, jika memang tulisannya salah?.
Jika jawabannya adalah "IYA". Maka sudahlah, saya saja yang meminta maaf pada kawan-kawan. Mohon Maaf Kawan-kawan.
Hak cipta gambar "Shut Up" ada pada www.chasthornhill.com
0 comments:
Post a Comment